MUSLIMAH KREATIF

''Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'' (QS 16: 18).

Photobucket

Apa yang sering dibicarakan ibu-ibu muda saat berkumpul atau arisan? Curhat seputar perkembangan dan pendidikan anak, urusan suami, berbagi contekan resep masakan atau lainnya? Yang jelas tak ketinggalan adalah komentar soal perilaku ibu mertua. Image "ibu mertua menyebalkan" terlanjur tercetak di kepala para perempuan. Tahukah anda kalau hubungan Moms dengan ibu mertua kurang akur, bisa saja merambah pada keharmonisan Moms dan suami yang ikut terganggu. Daripada pusing, berikut sedikit trik jitu "menaklukkan" hati ibu mertua. Mulai dari Obrolan Ringan "Tak kenal maka tak sayang!" Anda tentu tak asing dengan ungkapan tersebut. Bila intensitas pertemuan Moms dengan mertua termasuk jarang, tak heran bila anda kerap "mati gaya" saat berhadapan dengannya. Nah, jangan biarkan hal ini terjadi berlarut-larut. Rajin-rajinlah mencari bocoran dari suami seputar orangtuanya. Tidak ada kata terlambat untuk memulai semuanya menjadi lebih baik. Anda bisa membuka obrolan ringan, misalnya tentang hobi. Perhatikan pula kegiatan apa saja yang kerap dilakukannya saat senggang. Tunjukkan ketertarikan anda terhadap hal-hal yang diminatinya. Niscaya ibu mertua akan terkesima dengan perhatian anda. Diomelin? Santai Sajalah! Lelaki sering menganggap perempuan adalah makhluk yang rumit. Nah, anda dan ibu mertua sama-sama perempuan bukan? Sebenarnya tak sulit memahami kemauan sang mama mertua. Simak saja karya ternama John Gray, dalam bukunya berjudul "Men Are From Mars, Women Are From Venus". Dituliskan bahwa salah satu sifat dasar perempuan adalah lebih berorientasi pada hubungan. Kalau berada dalam posisi ibu mertua, apa yang Moms pikirkan? Bandingkan dengan status Moms sebagai istri. Intinya ingin mencurahkan segenap kasih sayang pada laki-laki yang sama kan? Hanya saja, beda cara perlakuannya. Ibu mertua memiliki hubungan sebagai ibu dan anak. Sedangkan Moms merasa berhak atas cinta suami, karena anda berdua sudah dipersatukan dalam satu ikatan. Namun wujud cinta kasih ini sering menjadi pemicu keributan. Rasa sayang yang begitu besar pada anaknya, justru membuat ibu mertua tampak bawel, apalagi jika menurut pandangannya si menantu kurang dapat membahagiakan anaknya. Misal, "Ajeng, gimana sih kamu, bikin sambalnya terlalu pedas! Romi itu suka sambal yang tidak terlalu pedas! Lain kali, ibu saja yang bikin!" Wah, mendengarnya saja sudah cukup membuat telinga panas. Memang sih cuma urusan sambal. Tenang Moms! Jika ditelusuri, secara tidak sengaja ibu mertua sudah membeberkan rahasia bagaimana menyenangkan suami. Kalau mau berpikir positif, hitung-hitung Moms sudah membahagiakan dua orang sekaligus, ya suami, ya ibu mertua. Kuncinya Komunikasi Menghadapi masalah dalam berumah tangga adalah hal yang wajar. Anda pasti ingin membahasnya berdua suami saja. Eh, "ibu suri" ikut turun tangan. "Kok bisa begitu? Harusnya kamu...bla...bla...bla." Alhasil, anda berasumsi apa iya ibu mertua membantu. Toh, cenderung menyalahkan situasi. Kalau Moms memiliki ibu mertua seperti ini, jangan curiga dulu! Bisa saja cara komunikasi ibu mertua yang kurang sesuai bagi anda. Jangan lupa, ibu mertua sudah puluhan tahun makan asam garam rumah tangga. Meski tak selalu tepat, pengalaman kerap kali menjadi guru yang terbaik. Siapa tahu dengan melewati masalah, anda maupun ibu mertua saling belajar memahami cara pandang dan karakter masing-masing. So, jangan kelewat hopeless menghadapi sikap ibu mertua, semua ada caranya koq. Semoga bermanfaat ya, Moms

Read More..

Penulis:Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin **Pahami anak sebagai individu yang berbeda. Seorang anak dengan yang lainnya memiliki karakter yang berbeda. Memiliki bakat dan minat yang berbeda pula. Karenanya, dalam menyerap ilmu dan mengamalkannya berbeda satu dengan yang lainnya. Sering terjadi kasus, terutama pada pasangan muda, orangtua mengalami ?sindroma? anak pertama. Karena didorong idealisme yang tinggi, mereka memperlakukan anak tanpa memerhatikan aspek-aspek perkembangan dan pertumbuhan anak. Misal, anak dipompa untuk bisa menulis dan membaca pada usia 2 tahun, tanpa memerhatikan tingkat kemampuan dan motorik halus (kemampuan mengoordinasikan gerakan tangan) anak. فَاتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu. (At-Taghabun: 16) Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ Apabila aku melarangmu dari sesuatu maka jauhi dia. Bila aku perintahkan kamu suatu perkara maka tunaikanlah semampumu. (HR. Al-Bukhari, no. 7288) Kata مَا اسْتَطَعْتُمْ (semampumu) menunjukkan kemampuan dan kesanggupan seseorang berbeda-beda, bertingkat-tingkat, satu dengan lainnya tidak bisa disamakan. Ini semua karena pengaruh berbagai macam latar belakang. ** Memberi tugas hendaklah sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak. لَا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.(Al-Baqarah: 286) **Berusahalah untuk selalu menghargai niat, usaha dan kesungguhan anak. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ?alaihi wa sallam bersabda: إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa dan harta kalian, tapi Allah melihat kepada hati (niat) dan amal-amal kalian. (HR. Muslim no. 2564) Jangan mencaci maki anak karena kegagalannya. Tapi berikan ungkapan-ungkapan yang bisa memotivasi anak untuk bangkit dari kegagalannya. Misal, ‘Abi tidak marah kok, Ahmad belum hafal surat Yasin. Abi tahu, Ahmad sudah berusaha menghafal. Lain kali, kita coba lagi ya.? ** Tidak membentak, memaki dan merendahkan anak. Apalagi di hadapan teman-temannya atau di hadapan umum. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا ‘Dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.’ (An-Nisa`: 5) ** Tidak membuka aib (kekurangan, kejelekan) yang ada pada anak di hadapan orang lain. Dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ?anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ Barangsiapa menutup (aib) seorang muslim, Allah akan menutup (aib) dirinya pada hari kiamat. (HR. Al-Bukhari no. 2442) ** Jika anak melakukan kesalahan, jangan hanya menunjukkan kesalahannya semata. Tapi berilah solusi dengan memberitahu perbuatan yang benar yang seharusnya dia lakukan. Tentunya, dengan cara yang hikmah. ?Umar bin Abi Salamah radhiyallahu ‘anhu berkata: كُنْتُ غُلَامًا فِي حِجْرِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَكَانَتْ يَدِي تَطِيشُ فِي الصَّحْفَةِ فَقَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: يَا غُلَامُ، سَمِّ اللهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ Saat saya masih kecil dalam asuhan Rasulullah Shallallahu ?alaihi wa sallam, saya menggerak-gerakkan tangan di dalam nampan (yang ada makanannya). Lantas Rasulullah Shallallahu ?alaihi wa sallam menasihatiku, Wahai ananda, sebutlah nama Allah (yaitu bacalah Bismillah saat hendak makan). Makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari makanan yang ada di sisi dekatmu. (HR. Al-Bukhari no. 5376) ** Tidak memanggil atau menyeru anak dengan sebutan yang jelek. Seperti perkataan: Dasar bodoh! Ini berdasarkan hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لاَ تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِلاَّ بِخَيْرٍ فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ يُؤَمِّنُونَ عَلَى مَا تَقُولُونَ Janganlah kalian menyeru (berdoa) atas diri kalian kecuali dengan sesuatu yang baik. Karena, sesungguhnya malaikat akan mengaminkan atas apa yang kalian ucapkan. (HR. Muslim no. 920) ** Perbanyak ucapan-ucapan yang mengandung muatan doa pada saat di hadapan anak. Seperti ucapan: بَارَكَ اللهُ فِيْكُمْ Semoga Allah memberkahi kalian. Allah Subhanahu wa Ta?ala berfirman: وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا Serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia. (Al-Baqarah: 83) Juga selalu mendoakan kebaikan bagi sang anak, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta?ala: وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا Dan orang-orang yang berkata: Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (Al-Furqan: 74) ** Berusahalah untuk senantiasa berlaku hikmah dalam menghadapi masalah anak. Tidak mengedepankan emosi. Tidak mudah menjatuhkan sanksi. Telusuri setiap masalah yang ada pada anak dengan penuh hikmah, tabayyun (klarifikasi). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا Dan barangsiapa yang dianugerahi al-hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. (Al-Baqarah: 269) **Berusahalah bersikap adil terhadap anak-anak dan berbuat baik kepadanya. إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ ‘Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.’(An-Nahl: 90) ** Hindari sikap-sikap dan tindakan yang menjadikan anak mengalami trauma, blocking (mogok), malas atau enggan belajar. Sebaliknya, ciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا، بَشِّرُوا وَلاَ تُنَفِّرُوا ‘Permudah dan jangan kalian persulit. Gembirakan, dan jangan kalian membuat (mereka) lari.’ (HR. Al-Bukhari no. 69) Wallahu a’lam.

Read More..

Cahaya Pagi

hmmmmm.....

taburan cinta dari Allah untuk hambaNya tak terkita banyaknya....^_^
suasana kerja yang mulai mengasyikkan...sudah mulai ada amaliyah yang akan meningkatkan ruhiyah. pagi2 sdh diperdengarkan dengan alunan ayat Alqur'an yang mulia...terasa hati ini basah oleh kerinduan untuk membaca sendiri dan menikmati apa yang dibaca...sesungguhnya memang benar, sesuatu yang dilakukan dengan penuh cinta akan melahirkan ketenangan dan kebahagiaan...

Read More..

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون
 يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبا
 يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا . يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما
أما بعد :

Tulisan ini adalah sebuah risalah fiqhiyyah an-nazilah (fiqh kontenporer) seputar imunisasi yang menjadi polemik besar di kalangan ahli ilmu yang sebenarnya bukan kemampuan kami untuk menguraikannya. Akan tetapi berawal dari permintaan salah satu ikhwan kepada kami di mana didaerahnya terjadi sikap “kolot” terhadap masalah khilafiyah khususnya dalam masalah ini maka kami mencoba dengan segala kekerdilan kami untuk menggoreskan tinta ini dengan sikap tathofful bil ulama’(bimbingan ulama’)

Karena pembahasan ini ada sangkut pautnya dengan kedokteran maka kami berusaha untuk mengumpulkan komentar-komentar ahli medis baik yang pro maupun kontra untuk memudahkan tashowwur (gambaran) riil yang ada, karena diantara kaidah fatwa adalah :
الحكم على الشئ فرع عن تصوره
 “ hukum sesuatu adalah cabang dari gambaran terhadap sesuatu tersebut”
Tulisan ini kami bagi menjadi beberapa bab
1.        Moqoddimah
2.      Definisi Imunisasi
3.       Macam-macam imunisasi
4.      Hukum asal imunisasi
5.      Praktek imunisasi modern
6.      Beberapa argumen/alasan bagi orang yang kontra dan anti dengan imunisasi
7.      Perantara menuju jawaban
8.      Tarjih dan analisa
9.      Fatwa para ulama tentang imunisasi
10.   Kesimpulan dan penutup
Yang perlu di sebutkan juga di sini bahwa masalah in adalah masalah fiqhiyyah ijtihadiyah yang tidak menjadikan sesat orang yang menyelisihinya[2], dan apa yang saya tulis ini belumlah titik, masih terbuka bagi semuanya untuk mencurahkan pengetahuan dan penelitian baik dari segi ilmu medis maupun ilmu syar’i agar bisa sampai kepada hukum yang sangat jelas
Dan kami nasehatkan agar janganlah kita meresahkan masyarakat dengan membuat keraguan kepada mereka karena ini termasuk masalah-masalah umat apalagi telah keluar fatwa MUI tentangnya[3]
Dan kami memohon tulisan ini bermanfaat khususnya pada pribadi kami dan para pembaca yang budiman dan menjadi tambahan berat dalam mizan hari akhirat. Amiin
1.      Moqoddimah
Perkembangan zaman dengan segala realitas kehidupan yang ada di dalamnya telah memunculkan berbagai persoalan baru yang memerlukan respon keagamaan yang tepat dan argumentatif. Banyak masalah-masalah baru yang tidak ada sebelumnya. Sekarang membutuhkan fatwa khusus
Permasalahannya  tidaklah serumit ini jika seandainya permasalahan-permasalahan baru tersebut di pegang oleh ahli islam yang amanah. Hanya saja yang disayangkan kebanyakan bahkan hampir seluruh permasaahan baru tersebut di pegang oleh orang-orang kafir atau orang-orang zindiq yang tidak perduli lagi tentang halal & harom –kita mengadu kepada alloh atas segala kehinaan dan kekalahan kaum muslimin dalam segala bidangnya-
Oleh karena itu seringkali muncul permasalahan dan pertanyaan di kalangan kaum muslimin di berbagai tempat yang tentunya membutuhkan jawaban yang benar sesuai dengan hukum islam itu sendiri
Di antara permasalahan itu yang menjadi polemik dan kontroversi adalah masalah yang akan kita bahas ini yaitu imunisasi yang di informasikan mengandung unsur-unsur harom seperti adanya enzim babi untuk pembuatan imunisasi polio, padahal di waktu yang sama pemberian imunisasi di zaman kita ini sangat di perlukan. Hal itu di sebabkan konsumsi-konsumsi manusia saat ini yang hampir tidak lepas dari bahan-bahan kimia yang berbahaya  sehingga muncullah penyakit-penyakit yang tidak ada pada sebelumnya. Maka di buatlah imunisasi yang merupakan tindakan preventif untuk mencegah datangnya penyakit-penyakit berbahaya tersebut.
2.     Definisi Imunisasi
Di sebutkan dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) edisi ke tiga halaman : 428, lafadznya :
“Imun a Dok kebal thd suatu penyakit: kalau sudah di suntik TCD, orang akan—thd penyakit tipus, kolera , dan disentri;
Pengimunan n proses, cara, perbuatan menjadikan kebal thd penyakit;
Keimunan n keadaan imun; keadaan kebal thd penyakit
Imunisasi n Doc pengimunan; pengebalan (thd penyakit): pemerintah memberikan suntikan TCD kepada murid SD dl rangka—thd penyakit tipus, kolera, dan disentri
Imunitas n 1 keimunan; kekebalan; 2 Tan keadaan tumbuhan inang yg bebas dr serangan dan kerusakan yg di sebabkan oleh penyakit (parasit)”
Dari pengertian diatas dapat kita simpulkan bahwa bahwa imunisasi adalah tindakan pengebalan tubuh dari berbagai penyakit
3.     Macam-macam imunisasi
Secara garis besarnya imunisasi terbagi menjadi dua :
A. Imunisasi Aktif
Imunisasi aktif adalah kekebalan tubuh yang didapat seseorang karena tubuh yang secara aktif membentuk zat anti bodi.
1. Imunisasi aktif alamiah
Adalah kekebalan tubuh yang secara otomatis diperoleh setelah sembuh dari suatu penyakit.
2. Imunisasi aktif buatan
Adalah kekebalan tubuh yang didapat dari vaksinasi yang diberikan untuk mendapatkan perlindungan dari suatu penyakit
B. Imunisasi Pasif
Imunisasi Pasif adalah kekebalan tubuh yang bisa diperoleh seseorang yang zat kekebalan tubuhnya didapatkan dari luar.
1. Imunisasi pasif alamiah
Adalah antibody yang didapat seseorang karena diturunkan oleh ibu yang merupakan orang tua kandung langsung ketika berada dalam kandungan.
2. Imunisasi pasif buatan
Adalah kekebalan tubuh yang diperoleh karena suntikan serum untuk mencegah penyakit tertentu. (http://colostrum.naikdaun.com/2010/07/jenis-dan-macammacam-imunisasi-kekebalan-tubuh-anti-bodi-ilmu-sains-biologi/)
Namun yang menjadi sorotan kita kali ini adalah macam imunisasi yang di peroleh dengan vaksinasi (Imunisasi aktif buatan), dan kalangan ahli gizi & anak menyebutkan imunisasi yang vital, yaitu :
1. BCG
- Perlindungan Penyakit : TBC / Tuberkolosis
- Penyebab : Bakteri Bacillus Calmette Guerrin
- Kandungan : Bacillus Calmette-Guerrin yang dilemahkan
- Waktu Pemberian :
I. Umur / usia 2 bulan
2. DPT/DT
- Perlindungan Penyakit : Difteri (infeksi tenggorokan), Pertusis (batuk rejan) dan Tetanus (kaku rahang).
- Penyebab : Bakteri difteri, pertusis dan tetanus
- Waktu Pemberian :
I. Umur / usia 3 bulan
II. Umur / usia 4 bulan
III. Umur / usia 5 bulan
IV. Umur / usia 1 tahun 6 bulan
V. Umur / usia 5 tahun
VI. Umur / usia 10 tahun
3. Polio
- Perlindungan Penyakit : Poliomielitis / Polio (lumpuh layuh) yang menyababkan nyeri otot, lumpuh dan kematian.
- Waktu Pemberian :
I. Umur / usia 3 bulan
II. Umur / usia 4 bulan
III. Umur / usia 5 bulan
IV. Umur / usia 1 tahun 6 bulan
V. Umur / usia 5 tahun
4. Campak / Measles
- Perlindungan Penyakit : Campak / Tampek
- Efek samping yang mungkin : Demam, ruam kulit, diare
- Waktu Pemberian :
I. Umur / usia 9 bulan atau lebih
II. Umur / usia 5-7 tahun
5. Hepatitis B
- Perlindungan Penyakit : Infeksi Hati / Kanker Hati mematikan
- Waktu Pemberian :
I. Ketika baru lahir atau tidak lama setelahnya
II. Tergantung situasi dan kondisi I
III. Tergantung situasi dan kondisi II
IV. Tergantung situasi dan kondisi III
B. Jenis / Macam Imunisasi Vaksin Yang Dianjurkan Pada Anak :
1. MMR
- Perlindungan Penyakit : Campak, gondongan dan campak Jerman
- Waktu Pemberian :
I. Umur / usia 1 tahun 3 bulan
II. Umur / usia 4-6 tahun
2. Hepatitis A
- Perlindungan Penyakit : Hepatitis A (Penyakit Hati)
- Penyebab : Virus hepatitis A
- Waktu Pemberian :
I. Tergantung situasi dan kondisi I
II. Tergantung situasi dan kondisi II
3. Typhoid & parathypoid
- Perlindungan Penyakit : Demam Typhoid
- Penyebab : Bakteri Salmonela thypi
- Waktu Pemberian :
I. Tergantung situasi dan kondisi
4. Varisella (Cacar Air)
- Perlindungan Penyakit : Cacar Air
- Penyebab : Virus varicella-zoster
- Waktu Pemberian :
I. Umur / usia 10 s/d 12 tahun 1 kali dan di atas 13 tahun 2 kali dengan selang waktu 4 s/d 8 minggu. (http://organisasi.org/jenis-macam-vaksin-imunisasi-untuk-anak-informasi-imunisasi-lengkap-wajib-penangkal-penyakit)
4.     Hukum asal imunisasi
Setelah kita ketahui ma’na imunisasi secara umum, maka tidak diragukan lagi bahwa hukum asal imunisasi adalah boleh dan tidak terlarang, karena imunisasi termasuk penjagaan diri dari penyakit sebelum terjadi . Rosululloh n Bersabda :
من تصبح كل يوم سبع تمرات عجوة لم يضره في ذلك اليوم سم ولاسحر
“Barangsiapa yang memakan tujuh butir kurma ajwah, maka dia akan terhindar sehari itu dari racun dan sihir” (HR. Bukhari : 5768, Muslim : 4702).
Berkata Syaikh bin Baz : “tidak masalah untuk menggunakan obat untuk menolak atau menghindari wabah yang dikhawatirkan. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahih, artinya : “Barangsiapa makan tujuh butir kurma Madinah pada pagi hari, ia tidak akan terkena pengaruh buruk sihir atau racun”. Ini termasuk tindakan menghindari penyakit sebelum terjadi. Demikian juga jika dikhawatirkan timbulnya suatu penyakit dan dilakukan pengebalan (imunisasi) untuk melawan penyakit yang muncul di suatu tempat atau di mana saja, maka hal itu tidak masalah, karena hal itu termasuk tindakan pencegahan. Sebagaimana penyakit yang datang diobati, demikian juga penyakit yang dikhawatirkan kemunculannya. (majmu’ fatawa wal maqolat syaikh ibnu Baz 6/26)
Berkata Ibnul Arobi as-Salafi al-Maliki : menurutku bila sorang mengetahui sebab penyakit dan khawatir olehnya, maka boleh baginya membendungnya dengan obat.” (al-Qobas : 3/1129)
5.     Praktek imunisasi Modern
Sebagaimana yang telah kami sebutkan pada muqoddimah bahwa ini termasuk dampak dari di pegangnya ilmu kedokteran oleh-orang barat yang notabenenya orang-orang kafir yang bukan hanya jahil terhadap halal-harom akan tetapi bahkan memusuhi dan melecehkan islam itu sendiri, dan saya mendapati permasalahan ini sering di jadikan senjata untuk menggugat keabsahan hukum imunisasi
Permasalahan yang kami maksudkan adalah dalam imunisasi yang di kenal ahli medis saat ini ada dua masalah yang membuat kening berkerut, yang pertama pemberian vaksin kedalam tubuh, yang kedua bahan yang di gunakan dalam vaksinasi tersebut
a.      Vaksinasi
Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), vaksin diartikan dengan bibit penyakit yang sudah di lemahkan, sedang vaksinasi adalah penanaman bibit penyakit yang sudah di lemahkan kedalam tubuh manusia atau binatang (dengan cara menggoreskan atau menusukkan jarum) agar orang atau binatang itu menjadi kebal terhadap penyakit tersebut. (KBBI edisi : 3 hal : 1258).
Oleh karena itu kaidah inti dari imunisasi adalah “ memasukkan bibit penyakit yang telah dilemahkan kepada manusia akan menghasilkan pelindung berupa anti bodi tertentu untuk menahan serangan penyakit yang lebih besar”

b.      Bahan- bahan dalam pembuatan vaksin
telah tersebar beberapa informasi tentang bahan pembuatan vaksin terutama dalam dunia maya (internet) bahwa bahan-bahan tersebut kebanyakannya terbuat dari benda –benda yang harom. Berikut sedikit kami nukilkan diantaranya :
Berkata Rini Puspitasari selaku staff of KKIA Departement FULDFK 2009/2010
“Penggunaan janin bayi yang sengaja digugurkan ini bukan merupakan suatu hal yang dirahasiakan publik. Sel line janin yang biasa digunakan untuk keperluan vaksin biasanya diambil dari bagian tubuh seperti paru-paru, kulit, otot, ginjal, hati, kelenjar tiroid, timus, dan hepar yang diperoleh dari aborsi janin”. Lalu beliau melanjutkan
“Disamping itu, vaksin dalam proses pembuatannya juga ada yang menggunakan enzim babi. Vaksin yang terbuat dari babi yaitu vaksin polio. Seorang pakar dari Amerika mengatakan bahwa vaksin polio dibuat dari campuran ginjal kera, sel kanker manusia, serta cairan tubuh hewan tertentu termasuk serum dari sapi, bayi kuda, dan ekstrak mentah lambung babi” [4]
(lihat :http://sk-sk.facebook.com/topic.php?uid=197538990489&topic=12546.) Demikianlah kami nukilkan tanpa ada sedikit perubahan, dan kita serahkan kepada Alloh atas kebenarannya

6.     Beberapa argument / alasan bagi orang yang kontra dan anti dengan imunisasi
Melihat penjelasan secara global hakekat imunisasi modern maka banyak timbul permasalahan hukumnya secara syariat dari beberapa kalangan baik dari ahli medis(notabenenya para herbalis) itu sendiri atau dari ahli keagamaan. Diantara mereka dengan menulis artikel atau buku untuk mengkampanyekan haramnya imunisasi dan yang paling ringan diantara mereka hanya bersikap menahan imunisasi tanpa adanya seruan status hukumnya. Di bawah ini saya sebutkan diantara argumen atas haramnya imuniasi di beberapa diskusi kami di ma’had kami dengan beberapa ikhwan dan sebagian asatidz juga dari beberapa artikel mereka yang saya ambil dari internet[5]
a.      Imunisasi terbuat dari bahan-bahan yang harom
b.      Sistem vaksin membahayakan
c.       Banyak kesaksian atas gagalnya imunisasi
d.      Imunisasi adalah program KB terselubung yang bertujuan untuk memandulkan anak
e.      Imunisasi bukanlah suatu yang dhorurot sehingga tidak bisa melegalkan yang harom
f.        Imunisasi tidak penting bagi anak
Demikian sebagian alasan dan hujjah bagi orang-orang ayang meniadakan imunisasi. Lalu bagaimanakah sebenarnya hakekat imunisasi tersebut? Sejauh mana bahaya imunisasi dan manfaatnya? Dan bagaimanakah sikap seorang muslim menghadapi problematik seperti ini

7.     Perantara menuju jawaban
Sebelum kita masuk permasalahan inti sekaligus jawaban dari hukum imunisasi ada beberapa permasalahan yang harus kita pahami terlebih dahulu
1.        Hukum berobat dengan hal yang di haromkan
Masalah ini terbagi menjadi dua bagian :
a.      Berobat dengan khomr adalah haram sebagaimana pendapat mayoritas ulama, berdasarkan hadits Thoriq bin Suwaid a, sesungguhnya ia bertanya kepada Rosululloh tentang khomr, maka Rosululloh n melarang untuk membuatnya, lalu ia berkata lagi : sesungguhnya aku membuatnya hanya untuk di jadikan obat, maka Rosululloh bersabda :

إنه ليس بدواء ولكنه داء
“Sesungguhnya khomr itu bukanlah obat melainkan penyakit.” (HR. Muslim:1984)
Berkata Imam an-Nawawi dalam syarah shohih muslim (13/153) : “Hadist ini merupakan dalil yang sangat jelas tentang haramnya khomr dijadikan sebagai obat”
Berkata Syaikh Abu Malik dalam shohih fiqh sunnah (2/391) : “maka masuk akalkah ada dokter muslim yang m
engetahui syariat islam mensifati khomr sebagai obat, padahal rosululloh mensifatinya sebagai penyakit”
b.      Berobat dengan benda haram selain khomr. Masalah ini diperselisihkan ulama menjadi dua pendapat :
Pendapat yang Pertama : Boleh dalam kondisi darurat.
 Ini pendapat Hanafiyyah, Syafi’iyyah, dan Ibnu Hazm. (lihat pemaparan khilaf dalam majmu’ syarh muhadzab, karya imam an-nawawi : 9/50).
Di antara dalil mereka adalah keumuman firman Allah :
وَمَا لَكُمْ أَلا تَأْكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ وَإِنَّ كَثِيرًا لَيُضِلُّونَ بِأَهْوَائِهِمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِالْمُعْتَدِينَ (١١٩)
Artinya : “mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, Padahal Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. dan Sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas”.
Demikian juga Nabi membolehkan sutera bagi orang yang terkena penyakit kulit (HR muslim 15/(2076, dan bolehnya orang yang sedang ihrom untuk mencukur rambutnya apabila ada penyakit di rambutnya (Shohih Fihq Sunnah 2/203).
Kedua: Tidak boleh secara mutlak.
 Ini adalah madzab Malikiyyah dan Hanabillah (lihat al-Mughni karya ibnu Qudamah 8/605).
Di antara dalil mereka adalah sabda Nabi :
إن الله أنزل الداء والدواء، وجعل لكل داء دواء، فتداووا ولا تداووا بحرام

“Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obatnya, maka berobatlah dan jangan berobat dengan benda haram” (HR. Abu Dawud 3874
, & di shohihkan syaikh al-albani dalam asshohihah 4/174)
Alasan lainnya karena berobat hukumnya tidak wajib menurut jumhur ulama, dan karena sembuh dengan berobat bukanlah perkara yang yakin.
Pendapat yang kuat: Pada asalnya tidak boleh berobat dengan benda-benda haram kecuali dalam kondisi darurat, yaitu apabila penyakit dan obatnya memenuhi kriteria sebagai berikut :
1)Penyakit tersebut penyakit yang harus diobati
2)Benar-benar yakin bahwa obat ini sangat bermanfaat pada penyakit tersebut.
3)Tidak ada pengganti lainnya yang mubah. (lihat penjelasan lengkap masalah ini dalam kitab
Ahkamul-Adwiyah Fi syari’ah Islamiyyah kar. Dr. Hasan bin ahmad al-Fakki hal : 187)
2.      Memahami ma’na dhorurot
Berkata syaikh Muhammmad bin Husain al-Jaizani : Yang di makud dhorurat (darurat) menurut ahli fiqh & ushul adalah kebutuhan mendesak untuk menerjang syariat, terkandung daam definisi ini dua poin penting, yaitu :
1. Dhorurot adalah kebutuhan mendesak yang tidak ada jalan keluarnya
2. Dhorurot adalah udzur yang dianggap oleh syariat & salah satu sebab keringanan yang benar, yang mengharuskan menyelisihi hukum syar’i (Haqiqoh dhoruroh syar’iyyah, hal : 8)
Jadi hakekat dhorurot adalah ketika seorang memilki keyakinan bahwa apabila dirinya tidak menerjang larangan tersebut niscaya akan binasa atau mendapatkan bahaya besar pada badanya, hartanya atau kehormatannya. Dalam suatu kaidah fiqhiyyah dikatakan:
الضرورة تبيح المحظورة
“Darurat itu membolehkan suatu yang dilarang”
Akan tetapi dhorurot ini memiliki syarat & dhowabit (kaidah), yaitu ada 4 :
1. Tegaknya kemadhorotan baik yakin atau persangkaa
n kuat
2. Adanya udzur (yaitu tidak bisa sama sekali dengan sarana yang halal)
3. Menggunakan sebatas dhorurot tersebut
4. Pandangan ke depan, di mana tidak ada bahaya yang mengancamnya
(Haqiqoh dhoruroh syar’iyyah hal : 14)
Berkata al-Izzu bin Abdussalam : “Seandainya seorang terdesak untuk makan barang najis maka dia harus memakannya, sebab kerusakan jiwa dan anggota badan lebih besar daripada kerusakan makan barang najis.”[Qowa’idu Ahkam hal : 141]
3.      Masalah Istihalah
Istihalah  adalah berubahnya suatu benda yang najis atau haram menjadi benda lain yang berbeda nama dan sifatnya. Seperti khamr berubah menjadi cuka, babi menjadi garam, minyak menjadi sabun, dan sebagainya (Hasyiah ibnu Abidin : 1/210)
Apakah benda najis yang telah berubah nama dan sifatnya tadi bisa menjadi suci? Masalah ini diperselisihkan ulama.
1.  Pendapat yang pertama, Istihalah dapat mensucikan benda najis
ini adalah pendapat hanafiyah, dhohiriyah, salah satu pendapat malikiyyah dan hanabilah, Syaikhul Islam, Ibnul qoyyim, Assyaukani dan lain-lain  
2.  Pendapat yang kedua, Istihalah tidak dapat mensucikan benda najis
ini adalah pendapat syafi’iyyah, hanabilah, sebagian madzhab malikiyyah & di ikuti abu yusuf (muri
d abu Hanifiyyah)
di antara Hujjah mereka adalah : bahwasana benda najis tidak akan bisa suci dengan cara apapun seperti darah menjadi nanah juga di kuatkan bahwa benda najis yang proses istihalahnya dengan di bakar maka ia bagian dari najis tersebut & di ikutkan kenajisannya sebagai
sikap kehati-hatian (Wallohu a’lam sebatas pencarian kami dalil mereka hanya sebatas nadhori (logika), berkata syaikhul islam : tidak ada mereka baik al-quran, sunnah, ijma’ maupun qiyas)
hanya saya pendapat yang kuat menurut kami bahwa perubahan tersebut bisa menjadikannya suci, dengan dalil-dalil berikut :
a.Ijma’ (kesepakatan) ahli ilmu bahwa khomr apabila berubah menjadi cuka maka menjadi suci (al-Muhalla 1/117 – 7/433)
b.Pendapat mayoritas ulama bahwa kulit bangkai bisa suci dengan disamak, berdasarkan sabda Nabi :
إذا دبغ الإهاب فقد طهور
 “ Kulit bangkai jika disamak maka ia menjadi suci.” ( Lihat Shohihul-Jami’ : 2711)
c.Benda-benda baru tersebut – setelah perubahan – hukum asalnya adalah suci dan halal, tidak ada dalil yang menajiskan dan mengharamkannya.
Pendapat ini di bela mati-matian oleh syaikhul islam (majmu’ fatawa & lihat argumentasi beliau secara naql & aql dalam kitab tersebut 21/481-504)
Alangkah bagusnya ucapan Imam Ibnul-Qoyyim : “Sesungguhnya benda suci apabila berubah menjadi najis maka hukumnya najis, seperti air dan makanan apabila telah berubah menjadi air seni dan kotoran. Kalau benda suci bisa berubah najis, lantas bagaimana mungkin benda najis tidak bisa berubah menjadi suci? Allah telah mengeluarkan benda suci dari kotoran dan benda kotor dari suci. Benda asal bukanlah patokan. Akan tetapi, yang menjadi patokan adalah sifat benda tersebut sekarang. Mustahil benda tetap dihukumi najis padahal nama dan sifatnya telah tidak ada, padahal hukum itu mengikuti nama dan sifatnya. (I’lamul Muwwaqq’in 1/394)
4.      Masalah Istihlak
Maksud Istihlak di sini adalah bercampurnya benda haram atau najis dengan benda lainnya yang suci dan hal yang lebih banyak sehingga menghilangkan sifat najis dan keharamannya, baik rasa, warna, dan baunya.
Apakah benda najis yang terkalahkan oleh benda suci tersebut bisa menjadi suci? Pendapat yang benar adalah bisa menjadi suci, berdasarkan sabda Rosululloh :
الماء طهور لا ينجسه شئ

“Air itu suci, tidak ada yang menajiskannya sesuatu pun.” (HR. Ahmad 3/31, Abu Dawud 66, Tirmidzi 1/95 & di shohihkan syaikh albani dalam irwaul gholil 1/45)
dan sabda beliau :
إذا بلغ الماء قلتين لم يحمل الخبث
 “Apabila air telah mencapai dua qullah maka tidak najis.”
(
HR. Abu dawud 56 & di shohihkan syaikh albani dalam irwaul gholil 23).
Dua hadits di atas menunjukkan bahwa benda yang najis atau haram apabila bercampur dengan air suci yang banyak, sehingga najis tersebut lebur tak menyisakn warna atau baunya maka dia menjadi suci. Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Barang siapa yang memperhatikan dalil-dalil yang disepakati dan memahami rahasia hukum syari’at, niscaya akan jelas baginya bahwa pendapat ini paling benar, sebab najisnya air dan cairan tanpa bisa berubah, sangat jauh dari logika.”[Majmu’ Fatawa : 21/508]
Oleh karenanya, seandainnya ada seseorang yang meminum khomr yang bercampur dengan air yang banyak sehingga sifat khomr-nya hilang maka dia tidak dihukumi minum khomr. Demikian juga, bila ada seorang bayi diberi minum ASI (air susu ibu) yang telah bercampur dengan air yang banyak sehingga sifat susunya hilang maka dia tidak dihukumi sebagai anak persusuannya.”[al-Fatawa al—Kubro 1/423]

8.     Tarjih & analisa
Dari keterangan di atas kita katakan pada masalah imunisasi :
1.        Anggapan imunisasi tidak penting bagi anak bahkan banyak kejadian gagal, dan sistem vaksinasi yang sangat BERBAHAYA.
Untuk menjawab anggapan ini kami nukilkan keterangan Dr. Arief [6]yang kami anggap tsiqoh (terpercaya) dalam masalam ini, beliau berkata dalam situsnya www.drarief.com, setelah memaparkan anggapan-anggapan negatif seputar imunisasi : ” Isu-isu di atas adalah TIDAK BENAR. Saat ini informasi bisa kita dapatkan dengan mudah dengan cara apapun. Kita bisa mengetahui dari belahan dunia manapun dengan mudah dan cepat. Kita bisa menyaksikan bagaimana dunia berlomba-lomba meningkatkan kecanggihan vaksin untuk meningkatkan kekebalan tubuh anak, dengan mengurangi efek samping hingga seminimal mungkin. Sekarang kita juga bisa membuktikan bahwa para ahli di seluruh dunia sepakat bahwa imunisasi adalah penting.
Bagi beberapa orang yang termakan isu-isu di atas, silakan Anda cari informasi terkini yang berkenaan dengan imunisasi tersebut. Insya Allah Anda akan menemukan 100% informasi – yang ilmiah tentunya, bukan sekedar asal ngomong belaka – yang akan mendukung dan menguatkan dasar pentingnya dilakukan imunisasi.
“Toh anak saya juga sehat nggak pakai imunisasi…” nah lho? Memang benar ada kemungkinan anak Anda tetap sehat tanpa imunisasi. Sebagaimana yang diungkapkan oleh dr. Adi di atas tadi, imunisasi bertujuan untuk memproteksi bukan 100%, terhadap penyakit. Ini artinya, bila sang anak yang sehat tanpa imunisasi tadi tidak tertular oleh penyakit yang dia tidak memiliki daya tahan terhadapnya maka kita sebut saja dia “beruntung”. Contohnya penyakit tuberculosis (TBC) yang dinyatakan secara statistik (dihitung orang per orang di setiap negara) bahwa Indonesia salah satu yang menduduki peringkat tertinggi di dunia. Apakah Anda tega membiarkan sang anak tanpa perlindungan dan hanya berbekal “semoga beruntung” saja?
Anak yang sudah diimunisasi dengan baik masih mungkin tertular penyakit tersebut. Namun, dibandingkan dengan yang tidak diimunisasi, tingkat sakitnya akan jauh berbeda.
Sebagai permisalan, pada saat turun hujan; anak yang diimunisasi adalah ibarat anak yang memakai jas hujan dan yang tidak diimunisasi adalah ibarat anak yang tidak memakai jas hujan. Apakah mungkin yang memakai jas hujan masih basah ? Mungkin saja! Tapi coba bandingkan dengan yang tidak pakai jas hujan. Tentu derajat “basahnya” tidak akan sama…
Nah khusus untuk poin isu ke-2 (sistem vaksinasi) di atas yang – mungkin – diyakini kebenarannya oleh beberapa orang, saya punya penjelasan sedikit ..Imunisasi memang benar berarti memasukkan penyakit ke dalam tubuh anak….. tapi tunggu dulu, bukan sembarang penyakit yang dimasukkan ke dalam tubuh sang anak tersayang.Vaksin penyakit yang dimasukkan kedalam tubuh anak pada imunisasi khusus untuk penyakit-penyakit yang terpilih yang berpotensi menimbulkan akibat yang fatal atau cacat yang permanen pada masa depannya. Vaksin tersebut adalah penyakit yang telah dilemahkan di laboratorium dan telah teruji secara klinis, sehingga yang didapatkan oleh sang anak adalah kekebalan terhadap penyakit tersebut dalam wujud sebenarnya – yang tidak dilemahkan.
Tubuh manusia memiliki suatu mekanisme untuk belajar mengatasi rangsangan dari luar. Ini adalah suatu karunia yang sangat besar yang diberikan Allah SWT kepada manusia. Rangsangan ini bisa berwujud perubahan cuaca dari panas ke dingin (atau sebaliknya), kontak dengan bakteri dan virus yang ada di udara bebas, kontak dengan alergen; atau singkatnya : kontak dengan dunia luar. Anak yang sehat memiliki kemampuan untuk mempelajari dan membuat kesimpulan tentang apa yang dipelajarinya. Ini juga terjadi pada sistem imun (kekebalan) tubuhnya. Proses belajar pada kekebalan tubuhnya akan langsung terjadi sesaat setelah seseorang bersinggungan dengan penyakit (misalnya dari orang lain). Kekebalan akan didapatkan sebagai hasil akhir / kesimpulan dari proses belajar tersebut – dengan catatan – bila status gizi pada tubuhnya baik. Mungkin ia akan mengalami sakit dahulu, namun tubuhnya akan terus mempelajari dan membuat kesimpulan terhadap penyakit tersebut.
Kekebalan dapat diperoleh dengan 2 cara, yaitu kekebalan aktif dan kekebalan pasif. Bedanya, yang satu didapatkan setelah seseorang sembuh dari suatu penyakit, dan yang lainnya didapatkan melalui vaksin penyakit tersebut.
Sebagai contoh : Seseorang bernama A terkena penyakit – sebut saja – penyakit “X”. Setelah sembuh, si A tadi akan memiliki kekebalan terhadap penyakit “X” tersebut. Pada kasus lain, seseorang lainnya bernama B mendapatkan vaksinasi penyakit “X”, dan dia mendapatkan kekebalan terhadap penyakit “X” tersebut. Menurut Anda, mana yang lebih bagus ? si A atau si B ? Anda menjawab “Tentu saja si A !”. Benarkah ?…..
Mungkin jawaban di atas benar, bila penyakit “X” yang dimaksud adalah penyakit yang sederhana, seperti flu biasa. Yang jadi masalah adalah : bagaimana bila penyakit “X” yang dimaksud adalah suatu penyakit yang fatal dan berpotensi untuk meninggalkan kecacatan??? Misalnya penyakit “X” tersebut adalah Polio, si A yang mendapat kekebalan setelah sembuh dari sakitnya belum tentu bisa berjalan dengan baik, bahkan mungkin ia tidak dapat berjalan lagi; sementara si B – yang mendapatkan vaksinasi polio – juga mendapatkan kekebalan terhadap penyakitnya, tetapi tanpa harus mengalami sakit terlebih dahulu…. Apa artinya seseorang memperoleh kekebalan setelah sembuh dari sakitnya, tapi ia kini juga memperoleh kecacatan (buta, lumpuh, dll) ? Tentu tidak banyak artinya. Apalagi pada konteks anak, masa depannya masih sangat-sangat-amat panjang sekali”( http://www.drarief.com/fatwa-ulama-tentang-imunisasi/) –di nukil dengan sedikit  perubahan-
2.      Bahan-bahan imunisasi yang haram.
Pertama kami : katakan bahwa memang dari imunisasi ada bahan-bahan yang harom semisal enzim babi dll ( bedasarkan banyaknya keterangan ahli medis) namun ada yang menurut saya berlebih-lebihan ketika menyebutkan bahan-bahan vaksin yang menyeramkan & menjijikkan (seperti : sel kanker manusia, bayi kuda, ekstrak mentah lambung babi, nanah dll) dan efek samping, seperti yang mereka sebutkan “VAKSINASI SEBAB TERBESAR MATI MENDADAK’, “IMUNISASI = IQ RENDAH” DLL yang kebanyakan hanya menukil tanpa menyebukan buku referensi kedokteran yang autentik, oleh karena itu dr. Arief mengatakan ketika di tanya masalah tersebut dalam situsnya tersebut “Saya mengutip ucapan beberapa ustadz terkait hal ini, kejelasan kandungan yang berasal dari bahan yang haram juga tidak ditunjang dengan data yang pasti. Referensi syariah saya dalam hal ini adalah ustadz Abu Zubair Hawaary, dan ustadz Sufyan Baswedan, keduanya adalah alumni Madinah, insya Allah bisa dipegang fatwanya”.
Yang kedua : kalau memang kenyataannya seperti itu maka kami katakan : bukankah kita telah bahas pada bab yang lalu tentang masalah istihalah bahwa yang rojih adalah bisa mensucikan, dan proses pembuatan imunisasi sebagaimana keterangan-keterangan ahli medis (terutam anggota LPPOM)[7] 100% sudah bersih dari bahan-bahan harom tersebut[8]. Berikut kami nukilkan mereka dalam masalah vaksin meningitis
Berkata  Dr H Achmad Sanusi, SpPD, ketua MPKS dalam acara press briefing tentang persiapan WHA dan vaksin meningitis di gedung Kemenkes, Jakarta, Jumat (14/5/2010) : "Kami mengkaji sistem ilmiahnya tentang bagaimana proses dari awal hingga didapatkan produk akhir, untuk vaksin meningitis ini yang diambil hanya polisakarida”. Beliau juga mengatakan “Bahan yang digunakan untuk membuat vaksin adalah polisakarida. Berdasarkan kajian yang kami lakukan, didapati bahwa hasil akhir yang berupa polisakarida tersebut tidak mengandung apa-apa”.

Juga apa yang di ungkapkan salah satu anggota LPPOM."Memang benar dalam proses produksinya vaksin meningitis bersentuhan dengan babi.  Tapi vaksinnya sudah tidak mengandung babi lagi karena dilakukan proses ultrafiltrasi."  (http://www.detikhealth.com/read/2010/05/14/134221/1356995/763/bahan-akhir-vaksin-meningitis-bebas-kandungan-babi?ld991107763)

3.         Manfaat dan bahaya imunisasi
Sebenarnya poin ini sudah di jelaskan di depan dari keterangan dr. Arief, namun perlu kami tambahkan bahwa manfaat imunisasi itu suatu yang tidak samar karena itu adalah tujuan dari di buatnya imunisasi adapun efek samping darinya maka seharusnya kita beri arahan dan motivasi kepada para dokter untuk meningkatkan kwalitas dan meminimalkan efek sampingnya, bukan malah membuat putus asa mereka dengan langsung vonis yang buruk. Dan sesungguhnya kejadian atas gagalnya imunisasi terhadap beberapa orang tidaklah mengubah status hukumnya, itu seperti beberapa obat atau tindakan medis (seperti operasi, kemoterapi dll) yang pernah mengalami kegagalan. Lantas apakah kita mengatakan tindakan-tindakan medis tersebut haram semuanya?!

9.      Fatwa para ulama’ tentang imunisasi.
Sebagai pelengkap pembahasan ini kami nukilkan fatwa para ulama’
1.      Fatwa Majelis Eropa Lil-Ifta’ wal Buhuts
Dalam ketetapan mereka tentang masalah ini dikatakan: “Setelah Majelis mempelajari masalah ini secara teliti dan menimbang tujuan-tujuan syari’at, kaidah-kaidah fiqih serta ucapan para ahli fiqih, maka Majelis menetapkan :
1) Penggunaan vaksin ini telah diakui manfaatnya oleh kedokteran yanitu melindungi anak-anak dari cacat fisik (kepincangan) dengan izin Allah. Sebagaimana belum ditemukan adanya pengganti lainnya hingga sekarang. Oleh karena itu, menggunakannya sebagai obat dan imunisasi hukumnya boleh, karena bila tidak maka akan terjadi bahaya yang cukup besar. Sesungguhnya pintu fiqih luas memberikan toleransi dari perkara najis- kalau kita katakan bahwa cairan (vaksin) itu najis- apalagi terbukti bahwa cairan najis ini telah lebur denga memperbanyak benda-benda lainnya. Ditambah lagi bahwa keadaan ini masuk dalam kategori darurat atau hajat yang sederajat dengan darurat, sedangkan termasuk perkara yang dimaklumi bersama bahwa tujuan syari’at yang paling penting adalah menumbuhkan maslahat dan membedung mafsadat.
2) Majelis mewasiatkan kepada para pemimpin kaum muslimin dan pemimpin markaz agar mereka tidak bersikap keras dalam masalah ijtihadiyyah (berada dalam ruang lingkup ijtihad) seperti ini yang sangat membawa maslahat yang besar bagi anak-anak muslim selagi tidak bertentangan dengan dalil-dalil yang jelas.[ Website Majlis Eropa Lil Ifta’wal Buhuts/www.e-cfr.org, dinukil dari kitab Fiqh Shoidali al-Muslim hlm. 107.]

      2.   Fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia)
Majelis Ulama Indonesia dalam rapat pada 1 Sya’ban 1423H, setelah mendiskusikan masalah ini mereka menetapkan :
1). Pada dasarnya, penggunaan obat-obatan, termasuk vaksin, yang berasal dari – atau mengandung- benda najis ataupun benda terkena najis adalah haram.
2). Pemberian vaksin IPV kepada anak-anak yang menderita immunocompromise, pada saat ini, dibolehkan, sepanjang belum ada IPV jenis lain yang suci dan halal.[ Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia hlm. 370.
]

         10.     kesimpulan dan penutup                                
Setelah keterangan di atas, maka kami memandang bolehnya imunisasi dengan kriteria-kriteria di atas atau yang semisalnya, sehingga tidak menutup kemungkinan adanya jenis imunisasi yang di sepakati bahayanya yang memunculkan hukum baru
Kami menyimpulkan juga dari beberapa diskusi ilmiyyah yang menjadi titik dasar perselisihan adalah ADA BAHAN HARAMNYA dan telah berlalu penjelasannya pada bab istihalah bahwa yag rojih adalah bisa mensucikan demikian juga masalah istihlak, oleh karena itu ketika MUI memfatwakan bolehnya imunisasi jenis IPV adalah karena alasan darurat, karena memang pendapat MUI dalam hal ini adalah syafi’iyyah yang meniadakan pengaruh istihalah ataupun istihlak[9]
Adapun manfaat dan madhorot yang di timbulkannya kami memandang seperti umumnya obat-obat kimia yang memilikiki beberapa efek samping akan tetapi dengan adanya rekomendasi para dokter –insyaalloh- manfaatnya lebih besar dari pada bahayanya
Kemudian kita juga katakan bahwa asal imunisasi adalah boleh sedangkan bahaya yang di hasilkannya minimalnya masih tanda tanya dalam artian meragukan. Dan dalam kaidah fiqhiyyah di katakan :
اليقين لا يزول بالشك
“Suatu yang yakin tidak bisa hilang dengan suatu yang meragukan”
Meskipun walohu a’lam kecenderungan hati kami bahwa imunisasi bukanlah suatu yang darurat karena kami tidak dapati pengaruh imunisasi seperti definisi darurat yang di terangkan ulama’ lebih-lebih kalau kita mau menerapkan “back to nature” kembali kepada yang alami & juga memakai tibbun nabawi yang telah teruji secara medis memiliki kandungan imun yang sangat besar[10]
Dan tulisan ini juga bukan ajakan wajib imunisasi. Akan tetapi seperti inilah tindakan obyektif dalam hukum islam, adapun setiap pribadi maka silahkan memakainya jika di pandang imunisasi  sangatlah urgen dan bagi yang lebih percaya pada thibbun nabawi silahkan meninggalkannya dan berusaha kembali ke hidup sehat ala rosul, akan tetapi kami ingatkan agar selalu menyandarkan semuanya kepada Allah dan kita tidak boleh sombong dengan sebab yang kita upayakan dalam menjaga kesehatan anak-anak kita -baik dengan cara imunisasi ataupun thibbun nabawi-
Bagi yang mengimunisasi, kemudian anaknya terkena penyakit yang dikhawatirkan, maka ia tidak akan menyalahkan vaksin itu sendiri, “Kenapa kok masih sakit padahal sudah di imunisasi” Karena memang sudah dijelaskan bahwa vaksin tidak memastikan bebas dari penyakit tersebut dan kita berusaha bersabar menerima takdir yang Allah tetapkan.
Begitupun kepada yang tidak mengimunisasi anaknya dan memilih thibbun nabawi, maka ketika anaknya terkena penyakit yang dikhawatirkan, maka tidak boleh menyalahkan thibbun nabawi tersebut sehingga mengurangi rasa cintanya pada thibbun nabawi dan kemudian menyalahkan diri dan menyesali, “kalau seandainya dulu pake vaksin”.
Karena kembali lagi, semuanya itu telah ditetapkan oleh Allah dan kita berusaha bersabar dan menerimanya.
Dan untuk kedua belah pihak, kalau seandainya anak saudaranya terkena penyakit yang dikhawatirkan, jangan bersikap sombong terhadap saudaranya, “Makanya, harusnya dulu diimunisasi.” atau ternyata yang terkena adalah anak yang diimunisasi, maka yang tidak mengimunisasi juga jangan sombong, sehingga kemudian masing-masing pihak lupa berdoa kepada Allah bahwa semua itu -kesehatan dan musibah yg tidak terkena padanya- adalah semata-mata keutamaan dari Allah dan hendaklah kita selalu memanjatkan doa kepada Alloh
الحمد لله اللذي فضلني على كثير من الناس
“Segala puji bagi Allah yg telah memberi keutamaan kepadaku atas banyak orang.”
Dan akhirnya ini yang bisa kami uraikan seputar imunisasi sejauh tashowwur kami dari beberapa referensi karena keterbatasan referensi kami, dan kami sangat mengharapkan masukan dari saudara semua baik dari pemuka agama atau dari kalangan ahli medis. Dan apa yang ada dalam tulisan ini jika ada benarnya maka semata-mata dari Alloh dan jika ada kesalahan maka itu dari kami dan syaithon dan alloh dan rosulnya berlepas diri darinya.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى اله وصحبه وسلم. واخر دعوانا ان الحمد لله رب العالمين






[1] Tulisan ini banyak mengambil faidah dari tulisan ustadzuna Abu Ubaidah dalam majalah al-furqon edisi 5 tahun 8 pada rubrik fiqh nawazil dengan judul “kontroversi hukum imunisasi polio” dan kitab “ahkamul adwiyah fis-Syariatil Islamiyah” karya Dr. Hasan bin Ahmad al-Fakki
[2] Sebagaimana pemaparan Fatwa Majelis Eropa Lil-Ifta’ wal Buhuts. Akan datang keterangannya pada bab 9.  fatwa para ulama tentang imunisasi
[3] Lihat himbauan ini dalam artikel kontroversi hukum imunisasi polio yang di tulis ustadzuna Abu Ubaidah
[4] Dan banyak lagi sebenarnya klaim-klaim mereka atas bahan imunisasi yang tersebar di dunia maya, diantaranya ginjal monyet dan anjing, embrio anak ayam, darah babi atau kuda dan nanah cacar sapi dan lain-lain yang mungkin lebih mengerikan lagi. Wallohu a’lam
[5] Di antara yang sangat keras menolak imunisasi adalah apa yang d sebutkan dalam majalah nikah volume 6 no.2 mei 2007 dengan membawakan hujjah-hujjah, diantaranya system vaksin yang menipu & beberapa data atas kegagalan imunisasi. Wallohu a’lam
[6] Beliau adalah dokter umun yang berdomisili di kota solo & banyak mengenal ustadz-ustadz salaf (lihat dalam situsnya & coment yang di bawahnya www.drarief.com
[7] Adalah singkatan dari lembaga pengkajian obat dan kosmetika, suatu lembaga yang di bentuk oleh MUI dengan tugas mengaudit perusahaan yang menghendaki mendapat sertifikat halal dari MUI
[8] Syaikhuna Ust. Ahmad Sabiq sering menyampaikan kepada kami akan konsultasi beliau kepada beberapa dokter & mahasiswa kedokteran jurusan farmasi tersebut tentang proses pembuatan vaksin dan mereka mengatakan bahwa proses akhir pembuatan vaksin bebas dari bahan harom
[9] Hal ini sama seperti masalah yang sempat geger yaitu masalah produk pelezat ajinomoto yang di informasikan ada kandungan lemak babinya. Kalau kita memahami masalah istihlal maka tidaka ada masalah lagi. Wallohu a’lam (faidah dari syaikhuna Ahmad Sabiq. Lc)
[10] Al-ustadz DR. Arifin Badri MA memiliki buku yang sangat bagus tentang masalah tersebut dengan judul “Imunisasi syariat” sekaligus sebagai bahan resensi kitab di majalah kami al-furqon edisi depan insyaalloh.

Read More..

Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma dia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم - يَجمَعُ بَينَ صَلاةِ الظُّهرِ وَالعَصرِ إِذَا كَانَ عَلَى ظَهرِ سَيرٍ، وَيَجمَعُ بَينَ المَغرِبِ وَالعِشَاءِ
“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam biasa menjamak antara zuhur dan ashar jika sedang dalam perjalanan. Beliau juga menjamak antara maghrib dan isya.” (HR. Al-Bukhari no. 1107)
Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhu dia berkata:
رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَعْجَلَهُ السَّيْرُ فِي السَّفَرِ يُؤَخِّرُ صَلَاةَ الْمَغْرِبِ حَتَّى يَجْمَعَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ الْعِشَاءِ
قَالَ سَالِمٌ وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَفْعَلُهُ إِذَا أَعْجَلَهُ السَّيْرُ وَيُقِيمُ الْمَغْرِبَ فَيُصَلِّيهَا ثَلَاثًا ثُمَّ يُسَلِّمُ ثُمَّ قَلَّمَا يَلْبَثُ حَتَّى يُقِيمَ الْعِشَاءَ فَيُصَلِّيهَا رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يُسَلِّمُ وَلَا يُسَبِّحُ بَيْنَهُمَا بِرَكْعَةٍ وَلَا بَعْدَ الْعِشَاءِ بِسَجْدَةٍ حَتَّى يَقُومَ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ
“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika beliau tergesa-gesa dalam perjalanan, beliau menangguhkan shalat maghrib dan menggabungkannya bersama shalat isya”.
Salim (anak Ibnu Umar) berkata, “Dan Abdullah bin Umar radhiallahu anhu juga mengerjakannya seperti itu bila beliau tergesa-gesa dalam perjalanan. Beliau mengumandangkan iqamah untuk shalat maghrib lalu mengerjakannya sebanyak tiga raka’at kemudian salam. Kemudian beliau diam sejenak lalu segera mengumandangkan iqamah untuk shalat isya, kemudian beliau mengerjakannya sebanyak dua rakaat kemudian salam. Beliau tidak menyelingi di antara keduanya (kedua shalat yang dijamak) dengan shalat sunnah satu rakaatpun, dan beliau juga tidak shalat sunnah satu rakaatpun setelah isya hingga beliau bangun di pertengahan malam (untuk shalat malam).” (HR. Al-Bukhari no. 1109)
Dari Muadz bin Jabal radhiallahu anhu dia berkata:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ إِذَا زَاغَتْ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ جَمَعَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَإِنْ يَرْتَحِلْ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ حَتَّى يَنْزِلَ لِلْعَصْرِ وَفِي الْمَغْرِبِ مِثْلُ ذَلِكَ إِنْ غَابَتْ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ جَمَعَ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَإِنْ يَرْتَحِلْ قَبْلَ أَنْ تَغِيبَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الْمَغْرِبَ حَتَّى يَنْزِلَ لِلْعِشَاءِ ثُمَّ جَمَعَ بَيْنَهُمَا
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada perang Tabuk, ketika matahari telah tergelincir sebelum beliau berangkat, maka beliau menjamak antara shalat zuhur dan ashar (jamak taqdim). Dan jika beliau berangkat sebelum matahari tergelincir, maka beliau mengundurkan shalat zuhur sehingga beliau singgah untuk shalat Ashar (lalu mengerjakan keduanya dengan jamak ta`khir). Demikian pula ketika shalat maghrib, apabila matahari terbenam sebelum beliau berangkat, maka beliau menjamak antara maghrib dan isya (dengan jamak taqdim), dan jika beliau berangkat sebelum matahari terbenam maka beliau mengakhirkan shalat maghrib hingga beliau singgah pada untuk shalat isya, kemudian beliau menjamak keduanya (dengan jamak ta`khir).” (HR. Abu Daud no. 1220, At-Tirmizi no. 553, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Al-Misykah no. 1344)

Penjelasan ringkas:
Di antara kemudahan yang Allah Ta’ala berikan kepada para hamba adalah Dia mensyariatkan kepada mereka untuk menjamak shalat dalam keadaan safar. Hal itu karena musafir -biasanya- mendapatkan kesulitan dan kerepotan kalau mereka harus singgah ke sebuah tempat untuk mengerjakan setiap shalat pada waktunya masing-masing. Karenanya, boleh bagi musafir untuk menjamak shalat maghrib dan isya pada waktu salah satu dari keduanya (taqdim atau ta`khir) dan demikian pula antara shalat zuhur dan ashar. Jamak ini boleh dia lakukan selama dia masih berstatus sebagai musafir, baik sedang dalam perjalanan maupun dia singgah di sebuah tempat. Semua ini berdasarkan dalil-dalil yang tersebut di atas.

Hukum jamak shalat bagi musafir
Tidak ada satupun dalil yang memerintahkan jamak shalat bagi musafir, yang ada hanyalah nukilan ada perbuatan Nabi shallallahu alaihi wasallam. Karenannya, hukum jamak shalat bagi musafir adalah sunnah dan tidak sampai dalam derajat wajib, berbeda halnya dengan qashar shalat yang hukumnya wajib bagi musafir.

Azan dan iqamah dalam shalat jamak
Dalam menjamak dua shalat, disyariatkan untuk mengumandangkan azan di awal dari dua shalat tersebut dan keduanya serta iqamah di awal kedua shalat tersebut. Hal ini berdasarkan hadits Jabir bin Abdillah radhiallahu anhu dimana beliau berkata:
أَنَّ النَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم - صَلَّى الصَّلاتَينِ بِعَرَفَةَ بِأَذَانٍ وَاحِدٍ وَإِقَامَتِينِ
“Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasalam mengerjakan (menjamak) dua shalat di Arafah dengan sekali azan dan dua kali iqamah.” (HR. Muslim no. 1818)
Juga berdasarkan hadits Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma di atas.

Jamak shalat jumat dan ashar
Tidak ada satupun dalil yang mengecualikan shalat jumat dari keumuman hadits-hadits tentang jamak shalat. Karenanya dibolehkan untuk menjamak shalat jumat dengan shalat ashar berdasarkan keumuman semua dalil di atas. Seandainya shalat jumat mempunyai hukum tersendiri yang berbeda dengan shalat-shalat lainnya dalam hal menjamak, niscaya para sahabat dan para ulama setelahnya akan semangat dalam menukilnya karena hukum tersebut keluar dari hukum asal. Karenanya, tatkala tidak ada satupun nukilan dari para sahabat radhiallahu anhum yang membedakan antara shalat jumat dengan selainnya. Dan barangsiapa yang hendak membedakannya maka hendaknya dia mendatangkan dalilnya, wallahu a’lam.

Hukum shalat jumat bagi musafir
Sehubungan dengan pembahasan di atas kami katakan: Tidak disunnahkan bagi musafir untuk mengerjakan shalat jumat, akan tetapi dia disyariatkan untuk hanya mengerjakan shalat zuhur lalu menjamaknya dengan ashar -jika dia ingin-.
Dalil dalam masalah ini adalah tidak adanya satupun dalil yang menunjukkan kalau Nabi dan para sahabat beliau mengerjakan shalat jumat dalam keadaan safar. Di antarnya adalah hadits Jabir bin Abdillah radhiallahu anhuma yang panjang dalam riwayat Muslim no. 1218 tentang sifat haji Nabi shallallahu alaihi wasallam, sementara para ulama menyebutkan bahwa hari arafah pada tahun itu jatuh pada hari jumat. Jabir berkata setelah menyebutkan isi khutbah beliau di Arafah, “Kemudian Bilal mengumandangkan azan kemudian iqamah kemudian beliau mengerjakan shalat zuhur. Kemudian iqamah kembali dikumandangkan lalu beliau shalat ashar, dan beliau tidak melakukan shalat sunnah satu rakaat pun di antara keduanya.”
Dari shalat yang beliau lakukan di Arafah pada hari jumat di atas berbeda bukanlah shalat jumat, ditinjau dari empat perkara:
1. Jabir menamakannya sebagai shalat zuhur dan bukan shalat jumat.
2. Azan di sini dikumandangkan setelah khutbah, sementara pada shalat jumat, azan dikumandangkan sebelum khutbah.
3. Hadits Jabir di atas hanya menyebutkan sekali khutbah, sementara shalat jumat memiliki dua khutbah.
4. Tidak dinukil bacaan beliau pada kedua rakaat tersebut, padahal Jabir menukil bacaan beliau pada shalat sunnah tawaf. Ini menunjukkan shalat yang beliau lakukan saat itu adalah shalat sirriah. Maka shalat ini tentunya bukanlah shalat jumat karena shalat jumat adalah shalat jahriah.
Sejumlah ulama seperti Ibnu Abdil Barr dalam Al-Istidzkar (5/76), Shiddiq Hasan Khan dalam Ar-Raudhah, dan selainnya menukil kesepakatan ulama akan tidak adanya shalat jumat bagi musafir. Hanya saja nukilan ijma’ ini kurang detail karena Ibnu Hazm rahimahullah berpendapat tetap wajibnya jumat bagi musafir. Karenanya ini hanya merupakan pendapat mayoritas ulama, dan inilah pendapat yang kuat insya Allah.

Jika musafir shalat jumat, apakah shalatnya syah?
Tatkala Nabi shallallah alaihi wasallam tidak pernah shalat jumat dalam keadaan safar, maka sudah bias dipastikan bahwa amalan mengerjakan shalat jumat dalam keadaan safar adalah salah dan menyelisihi tuntunan beliau, serta pelakunya telah terjatuh ke dalam dosa penyelisihan kepada Ar-Rasul shallallahu alaihi wasallam. Hanya saja, apakah shalat jumatnya dan khutbahnya -jika dia adalah khatib- syah atau batal? Wallahu a’lam, pendapat yang lebih dekat kepada kebenaran adalah pendapat mayoritas ulama yang menyatakan syahnya shalat jumat serta khutbahnya walaupun dia berdosa. Sebagaimana halnya jika ada seorang musafir yang shalat itmam (4 rakaat), maka shalatnya syah akan tetapi dia berdosa karena menambah 2 rakaat dimana Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak pernah menambahnya dalam safar.

Kapan musafir mulai boleh menjamak?
Dari hadits Muadz bin Jabal di atas menunjukkan bolehnya menjamak shalat walaupun masih berada di negerinya, selama dia sudah ada niat untuk mengerjakan safar. Karenanya, jika dia sudah ada niat untuk berangkat setelah shalat zuhur, maka ketika shalat zuhur dia sudah bisa menjamaknya dengan shalat ashar walaupun dia masih belum memulai perjalanan.
Jika setelah menjamak, dia mengundurkan perjalanannya -karena ada uzur- hingga masuk shalat ashar, maka dia tidak wajib mengulangi shalat asharnya, karena shalatnya yang pertama tadi sudah mencukupi. Hanya saja jika dia sedang berada di dalam masjid sementara shalat ashar didirikan atau dia sengaja datang ke masjid untuk shalat ashar, maka shalatnya saat itu dia niatkan sebagai shalat sunnah dan bukan niat shalat ashar.
Tidak boleh dia mengerjakan shalat ashar kembali dengan alasan shalat ashar yang pertama itu dirubah menjadi shalat sunnah, karena merubah niat dalam keadaan seperti itu tentunya tidak memberikan pengaruh apa-apa. Demikian pula tidak boleh walaupun alasannya untuk berjaga-jaga, karena itu lebih mendekati amalan was-was daripada amalan ihtiyath (jaga-jaga).

Adapun masalah kapan seorang dikatakan musafir sehingga diperbolehkan menjamak. Demikian pula berapa lama dia boleh menjamak, maka jawabannya sama seperti pada pembahasan qashar shalat bagi musafir dalam artikel sebelumnya.

[Rujukan utama: Dhiya` As-Salikin fii Ahkam wa Aadab Al-Musafirin karya Asy-Syaikh Yahya bin Ali Al-Hajuri hafizhahullah]

Read More..
Photobucket

Time

Date

Powered by Blogger.

About Me

My photo
berbagai hal yang indah untuk bayi adalah hal yang indah buat kita sebagai orang tua...masa kecil adalah masa yang tak akan terlupa oleh mereka tatkala mereka dewasa... Fast sharing n question to my Phone: 083191068057 (silvi)

Followers

Ahlan Wa Sahlan yaa Shohibii


ShoutMix chat widget

who's?

Jazakumullah

free counters
Bidanku.com
Hadirkan Nuansa Kualitas di Keluarga Anda
Free Website templatesfreethemes4all.comLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesFree Soccer VideosFree Wordpress ThemesFree Web Templates